Saat menghitung dijid huruf untuk merangkai sebuah kata yang akan tersusun menjadi sepenggal cerita. Belum terbayang sampai hari ini bagaimana kelak saat aku memiliki seorang anak yang akan memanggilku Ayah, rasanya tinggal menunggu hari menjelang genap aku memiliki kepala dua, atau umurku memasuki usia kedua puluh tahun, kurang dari sebulan lagi tanggal 22 februari 2011, tepat hari jadiku yang ke 20, jelas belum ada bayangan untuk membina sebuah rumah tangga di usia yang cukup belia ini, mungkin 4 atau 5 tahun lagi, saat semuanya benar-benar siap.
Tapi bukan ini yang menjadi intisariku dalam tulisanku kali ini, tapi aku ingin kembali keusia kanak-kanakku lagi saat hari itu aku masih ingat jelas wajah ayahku. Sesosok laki-laki yang menjadikanku nyata di dunia ini, saat ini. Aku tidak mengingat jelas pertama kali aku melihat wajah itu, orang yang biasa kusebut Ayah, “jelas” karena saat pertama kali aku menemuinya belum ada memori yang bisa ku simpan dalam otakku, kalau aku boleh menerka saat pertama kali aku melihat wajahnya saat aku baru terlahir kedunia ini, saat aku terbebas dari rahim sang bunda. Jum’at, 22 februari 1991, ya aku anak kedua dari istri kedua ayah, ayahku menikah dengan ibuku setelah istri pertamanya meninggal, aku dianugrahi 2 orang kakak dari pernikahan pertama ayahku. Cukup untuk biografinya. Kembali ke garis merah cerita.
“Ayah”, laki-laki itu memang biasa ku sebut Ayah, karena ia memang Ayah kandungku, tak ada sebutan lain untuknya, dan aku juga tidak pernah bertanya mengapa ia harus ku panggil Ayah, bukanya Bapak, Papi, dedy, babe, atau yang lainya. Yang bisa kuilhami karena mayoritas orang-orang di lingkungan tempat tinggalku menyebut orang tua laki-lakinya dengan sebutan Ayah, panggilan ini cukup sederhana, sesuai dengan kondisi keluargaku. Kami bukan orang kaya, tapi tidak juga terlalu miskin, Ayah adalah seorang PNS golongan menengah di kantor Pemerintah Daerah Kabupaten Aceh Barat (Meulaboh), walau begitu aku cukup bangga padanya, walaupun ia tidak memiliki terlalu banyak uang, banyak pengalaman hidup yang bisa kudapat darinya, ia adalah sosok Ayah yang sangat cinta pada keluarga, dan sangat bertanggung jawab terhadap keluarga, mengapa?
“Sebelum Ayah memiliki sebuah motor merek Honda 800 Ayah selalu berangkat ke kantornya dengan menggoes sebuah sepeda merek Mustang (kalau ga salah itu mereknya) yang masih jelas kuingat aku sering diboncengnya untuk ikut dia ke kantor yang jaraknya kurang lebih 25km. motor itu merupakan satu-satunya barang berharga yang ia wariskan sampai akhir hayatnya, satu lagi yang aku ingat dari Ayah untuk menambah biaya sekolah kami, Ayahku rela bangun pagi-pagi, untuk membuat gorengan yang dititipkan di tanah lapang, di gerobak-gerobak orang berjualan makanan, yang mana di sana banyak para tukang becak dan pegawai yang rehat disiang dan sore hari. Ayah juga sering melaut disaat hari libur atau saat gajinya benar-benar sudah tidak mencukupi lagi sampai tiba waktu gajian selanjutnya, satu lagi hal yang membuat aku bangga pada Ayahku, Ayah tidak pernah menyisakan satu peserpun uang gajinya di kantong, semuanya ia serahkan pada ibu untuk memenuhi kebutuhan makan dan sekolah kami., yang ku tahu tak banyak Ayah yang berlaku seperti ini. Dia sosok yang luar biasa walau aku sering malu mengakuinya sebagai ayahku, “Bang ACA” itu panggilanya yang sangat familier walau sangat bertolak belakang dengan nama aslinya Azhar AM., laki-laki berkulit putih, tinggi kurus, bersuara keras, berperawakan tua, dan suka bertelanjang dada, walau ia lebih tampan dariku aku terkadang malu mengakuinya Ayah, karena suaranya yang besar dan suka bertelanjang dada dengan sarungnya, dan ia sangat-sangat ramah siapapun yang lewat, pasti ditegurnya, itu yang membuatku malu saat masih kanak-kanak dulu, “Ayah yang Norak”. Huh” tapi tetap saja ia Ayahku laki-laki perkasa yang menjadi idolaku saat ini. Ada banyak cerita yang bisa terurai selama 9 tahun aku di urusnya; Ayah yang tidak pernah mengeluh tentang hidupnya yang begitu sulit, yang selalu tersenyum renyah walau dikantongnya tinggal sebatang rokok surya dan seonggok dompet kulit tua yang penuh dengan lembaran kertas, bukan uang. “Hebatnya ayahku, walaupun dibulan tua ia tetap bisa mentraktirku mie ayam, atau sepotong martabak dengan es demi membahagikan hatiku. Inilah hal yang membuatku rindu pada Ayah, Saat aku sedang bermain dengan teman sepermainanku diwaktu kecil, bertemu dengan Ayah di tanah lapang dan ia mentraktirku, “yang memang aku jarang sekali memiliki uang jajan dimasaitu”. traktiranya dan pandanganya saat melihat aku makan, benar-benar menghangatkan hatiku.
Ditambah lagi ceritanya tentang monyet dan nenek tua yang menjadi teman menjelang tidurku. Aku tidak pernah bosan dengan dongengnya walaupun ceritanya sering berulang, ditengah lelahnya ia selalu menidurkanku, dengan ceritanya dan Koran yang digenggamnya sebagai pengganti pendingin ruangan yang dikipas-kipaskanya kearahku, walau kadang terhenti karena ia tertidur dalam kepenatanya, namun saat Koran itu kupukul dengan tangganku, Koran itu akan kembali bergoyang, memberi kesejukan untuk diriku. Sampai aku benar-benar tertidur baru kipas itu akan berhenti.
Ia selalu ingin membuat kami bahagia, tanpa pernah menunjukan kesukaran hidup yang ia alami, sosok yang benar-benar luar biasa untuk hidupku walau sampai akhir hayatnya belum banyak yang bisa aku berikan padanya. Mudah-mudahan hidunya aku sebagai perantau diusia yang sangat kecil cukup mengurangi bebannya. Hanya 9 tahun aku hidup bersamanya selanjutnya aku habiskan sebagai perantau sampai hari ini, tinggal jauh dari orang tuaku di kota Bandar Lampung, membuatku hampir lupa dengan wajah dan kasih sayang dari Ayahku.
Pertemuan kami selanjutnya terjadi di usiaku yang ke 12 dan ke 15 tahun. Kepulanganku yang kedua merupakan pertemuan terakhirku dengannya. Tsunami 26 Desember 2004 menghancurkan 85% tanah kelahiranku, kabar berita ini, memupuskan harapanku dan imajinasiku tentang keberadaan sanak familiku, dalam tiap doaku pasca bencana itu, “bila mereka masih hidup lindungilah mereka, bila sudah tiada temukanlah jasadnya” seakan tiada harapan untuk bisa melihat wajahnya, senyumnya, dan mendengar suaranya yang keras. Saat itu aku telah iklas dan pasrah terhadap takdir yang Allah gariskan padaku. Namun Allah punya sebuah rencana besar, ia masih izinkan aku memandang wajah Ayahku untuk yang terakhir kalinya 1 bulan pasca tsunami kabar bahagia datang dari tanah kelahiranku, seluruh keluargaku selamat, termasuk Ayah. Walaupun saat itu ia dalam keadaan baru pulih dari sakit stroke yang ia alami ia masih diberi mukzizat oleh Allah untuk selamat dari bencana itu.
26 desember 2004 gempa berkekuatan 8,6 sl menghantam pantai bagian barat Indonesia, saat itu Ayah, kakak, dan adiku berada dirumah sedangkan ibu sedang berbelanja di pasar, setelah gempa pertama, ibu pulang kerumah dan menanyakan kondisi rumah, rumah aman hanya 2 buah gelas yang pecah laporan kakakku pada ibu, setelah membereskan belanjaan ibu dan kakak berangkat ke rumah sakit menjenguk bude yang sudah hampir satu minggu dirawat disana, “kakak dan ibu selamat karena rumah sakit jauh dari laut, gempa ke dua dengan kekuatan yang lebih dasyat kembali terjadi, menyusutkan air laut sejauh 5km, mendengar berita itu adik pamit ke Ayah untuk melihat ikan di laut, yang konon berserakan dipinggir laut karena air yang surut begitu cepat, diluar dugaan Ayah mengijinkanya, berselang 10 menit, air pasang pertama muncul, setinggi kurang lebih 15 meter, membuat semua orang yang ada di pantai panik dan melarikan diri, alhamdullillah adik selamat karena lari keatas ruko, begitu juga Ayah, pohon tinggi yang ada di sekitar tanah lapang menjadi penyelamat nyawanya dari gelombang yang tingginya mencapai 100 meter. Lebih dari 20 juta jiwa menjadi korban dari bencana ini, namun Ayah menjadi salah satu yang selamat dari bencana ini. 6 bulan pasca bencana aku baru bisa kembali melihat wajah tuanya, tidak dirumah tempat aku lahir, tapi dibarak berukuran 15 x 10 meter, sebagai rumah sementara bagi korban bencana. Ada pesan kematian yang ia sampaikan saat aku tiba pertama kali di sana, kurang lebih ia berkata seperti ini; “waktu dapat kabar adek mau pulang, Ayah girang bukan maen, tiga hari lewat semangat kali ayah tunggu kalian datang, dua hari abis tu, ayah masih semangat nunggu, kemaren Ayah masih tunggu, tapi ga tau kalian mau datang apa nggak. Tapi kalau hari ini kalian ga datang udahlah Ayah ga mau nunggu lagi”. Tak terbayang apapun dibenakku tentang perkataan Ayah itu, memang kedatanganku kesana, tidak sesuai dengan janji yang kami sampaikan.
Satu hal yang masih kusesali sampai hari ini, kenapa dua minggu itu tidak benar-benar kumanfaatkan dengan baik bersama Ayah, waktu itu tidak ku buat lebih berarti, untuk menatap wajanya secara kyusuk, menghitung garis wajahnya, memandangi senyumanya, dan merekam segala pose jasadnya dalam ingatanku. Waktu itu justru aku sia-siakan untuk bermain dengan temanku, masih malu mengakuinya Ayah, saat kulihat ia dengak kebiasaan lamanya, bertelanjang dada berbalut sarung seraya bersuara keras menyapa orang-orang, dan membuat ia kesal karena ulahku menggodai adikku di hadapanya. Kembali menuju Lampung salam perpisahan itu menjadi akhir perjumpaanku denganya, ciuman dikedua pipiku dan kening, merupakan ciuman terahirnya, lambaian tangganya saat itu merupaka lambaian tanggan perpisahan untuk selamanya. Aku masih ingat betul hari itu, hari senin aku tiba di Lampung, sesampainya disini kabar menyatakan bahwa Ayah masuk Rumah Sakit, namun aku tidak melihat tanda-tanda itu saat aku berada disana ia terlihat sangat sehat, bahkan masih sanggup mengendarai motor, menyusuliku di kampung ibu yang jaraknya lumayan jauh dari barak pengungsian. Dihari yang sama dengan hari kelahiranku “Jum’at”, 15 Agustus 2005 ia menghadap sang Khaliq, menentaskan urusanya di dunia menuju penantian panjang, di pembaringan terakhir. Ironis saat ia meninggal aku tidak melihat jasatnya untuk yang terakrir kali, tidak mendampinginya saat saqaratul maut, tidak turut memandikanya, tidak memopong berat geranda mayatnya, tidak menghantarnya ke liang lahat, tidak mengumandangkan Azan di dalam kuburnya, tidak menimbun jasadnya dengan tanah, tidak ikut serta menaburkan bungga di atas makamnya. 3,5 tahun setelah kepulanganya adalah kali pertama aku berdoa dihadapan kuburnya, kali pertamanya aku mengziarahi kuburnya dalam usiaku ke 18 tahun.
Semua sudah jadi kenangan saat aku merentaskan tulisan ini, hanya selembar fotonyalah yang menjadi pengobat rinduku, hanya pengalaman hidupnya yang bisa menjelaskan padaku apa arti seorang Ayah.
Satu pesan yang ingin kusampaikan pada seluruh sahabat yang ku cintai melalui blog ini, cintailah ia dengan segala kelebihan dan kekurangan yang melekaat padanya, selama kesempatan itu masih ada, dan kita bersiaplah menjadi Ayah terbaik untuk anak-anak kita.
